Minggu, 14 Januari 2018

Melihat Lautan Awan di Kebun Buah Mangunan Jogja (tapi Failed)

Hari minggu pagi di Jogja, hanya akan menjadi yang biasa kalau kita nggak memanfaatkannya untuk melihat keindahan pagi di sekitaran kota. Kota jogja yang terkenal akan budayanya, juga memiliki alam yang indah di sekitar kota. Contohnya adalah di sekitar Kabupaten Bantul. Pada kesempatan ini, kami mengunjungi salah satu tempat yang memiliki pemandangan lautan awan, Puncak Kebun Buah Mangunan.

Kebun Buah Mangunan ini berjarak 20 km dari kota Jogja. Kalau pagi - pagi kita bisa memakan waktu 30 menit untuk sampai di lokasi wisata tersebut. Untuk ke lokasi ini transportasi umum tidak tersedia, sehingga hanya memungkinkan untuk menggunakan pribadi. Di jogja banyak terdapat agen rental mobil ataupun motor, selain harga yang terjangkau, berkeliling wisata di jogja pun jadi lebih nyaman.

Tiket masuk ke Kebun Buah Mangunan ini dikenakan tarif 6000 rupiah per orang. Setelah melewati jalan kecil yang menanjak sekitar 10an menit, sampailah kami dipuncaknya. Nah untuk menikmati lautan awan ini, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kami pikir dengan datang pagi hari setelah subuh, kami bisa menikmati pemandangan tersebut. Namun kabut terlalu malu untuk berkumpul di lereng kebun. Beruntungnya kami masih bisa menikmati pemandangan lautan manusia dan pemandangan hijau bukit.

Expektasi lautan awan di Puncak Kebun Buah Mangunan (cr: google.com)

Realita lautan orang di Puncak Kebun Buah Mangunan

Keep smile and take photo in any situation

Find cute and handsome in one package boy

Senin, 01 Januari 2018

Hatsuhinode 2018 di Gunung Batu Lembang

Hatsuhinode adalah matahari terbit yang pertama kali pada suatu tahun dalam bahasa Jepang. Hatsuhinode ini memiliki nilai spiritualitas untuk orang Jepang, dimana mereka biasanya berdoa meminta keberuntungan. Namun, bagi saya melihat matahari terbit ini merupakan salah satu bentuk keindahan ciptaan-Nya. Jadi, ketika saya mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu pergantian Tahun di Bandung. Saya berandai untuk menikmati sunrise di awal tahun 2018 ini.

Setelah beberapa penelitian melalui internet dan diskusi dengan Mas Ridwan. Kami memutuskan untuk melihat matahari terbit tahun ini dari Gunung Batu di Lembang. Perjalanan ke Gunung Batu dari Kota Bandung memakan waktu sekitar 40 menit dengan kondisi jalan yang sangat lengang. 

Untuk bisa menikmati sunrise, kami berangkat pukul 4.30 pagi menggunakan motor. Setelah 40 menit menembus dinginnya angin pagi Bandung. Sampailah kami di Masjid Al-Ghani di Jl Dago Giri. Lalu kami memparkir motor di tempat parkir masjid tersebut. 

Dibutuhkan usaha yang sangat ekstra untuk menuju puncak Gunung Batu. Setelah sekitar 30 menit mendaki jalan yang menanjak, sampailah kami di puncak Gunung Batu. Dari puncak tersebut, kita akan mendapatkan pemandangan kota Bandung yang masih diselimuti kabut, kabut - kabut yang mulai bergerak turun dari bukit di Lembang dan berkas cahaya matahari yang menyelinap keluar Gunung Takuban Perahu. Untuk mendapatkan pemandangan matahari terbit yang bagus memang memerlukan faktor keberuntungan. Mungkin karena kemarin sore sudah hujan jadi untuk pagi harinya langit terlihat lebih bersih.

Lokasi wisata ini bisa dibilang cukup ramah di dompet karena untuk masuk wilayah ini tidak dipungut biaya, jika sesuai dengan rute yang kami lalui ya. Dan untuk parkir juga gratis di Masjid Al-Ghani tersebut. Wisata Gunung Batu ini cocok untuk kalian yang ingin merefreskan pikiran dan membutuhkan ketenangan alam.

Harap - harap cemas, karena biasanya di sini sering mendung, mungkin karena doa pas tahajud kenceng kali ya 

Alhamdulillah bisa menikmati matahari awal 2018
  
 Let the sunshine kiss your face softly

Nggk apa- apa kalau Lembang yang diselimuti kabut. Asal senyummu jangan diselimuti kabut juga 

Kota Bandung dan kabut

Love the silhouette 

Fresh!!!

Time to "Turun Gunung"

Parkir di sini guys

Two thumbs up 

Hope this year will be our another greater year and be the good results from all our work

Jumat, 29 Desember 2017

Mengunjungi Rusa di Ciwidey

Di hari jum'at yang barokah, saya mencoba melihat kembali foto - foto perjalanan lama, salah satunya adalah wisata di Oktober 2016. Memang sangat asyik untuk bernostalgia melalui foto. Dan nostalgia itu sampailah pada folder Bandung - Ciwidey. Pada perjalanan ini terdapat banyak cerita yang ingin saya ingat lagi selagi menuliskan di post kali ini.

Perjalanan ke Ciwidey dari Kota Bandung, kami tempuh dalam waktu 1,5 jam menggunakan salah satu motor kesayangannya Mas Ridwan. Ridding ke-2 setelah perjalanan ke Bukit Kemuning di Karangayar, Solo. Wisata yang mejadi tujuan kami adalah Kawah Putih dan Ranca Upas.

Untuk masuk ke wisata Kawah Putih, kita bisa langsung parkir di dekat wisatanya atau di area parkir bawah dan melanjutkan perjalnan ke lokasi wisata menggunakan mobil angkot terbuka. Melihat dari biaya parkir di atas, kami memilih pilihan untuk memarkirkan motor di bawah dan menggunakan angkutan yang disediakan untuk naik. Perjalanan ke lokasi wisata dari parkir bawah menmakan waktu setengah jam. Di lokasi kawah putih ini, kita dianjurkan untuk menggunakan masker mulut dikarenakan bau belerang yang sangat menyengat di kawah tersebut. Sebaiknya juga menggunakan jaket yang lumayan tebal, karena cuaca yang dingin dan berangin. Lalu, jangan ketinggalan alat dokumentasi, karena di Kawah Putih terdapat beberapa lokasi yang memiliki pemandangan bagus, seperti hutan mati, gardu pandang kawah dan disekitar kawahnya.

Selain Kawah Putih, kami juga mengunjungi Kampung Cai Ranca Upas. Tempat ini merupakan lokasi perkemahan dan outbound, namun ada spot photo yang menjadi hits setelah Raisa mengupload fotonya bersama rusa-rusa. Ya, itu yang menjadi magnet untuk wisatawan mengunjungi lokasi Ranca Upas ini. Di sini banyak dijadikan spot yang bagus untuk foto - foto preweding atau kegiatan lain.

It's a must to take a photo with the tagline place

Hati - hati neng jalannya, liat bawah terus 

Nice photo like in another world 

Kawah yang menjadi danau

Misty fog in Kawah Putih


Breath deeply

Let's go find something to remember

Gerbang Ranca Upas

Meet the Deers

And take a photo with them

Jangan pelit ngasih makan binatang ya. Kalau nggak bakal kena karma gini 




Rabu, 20 Desember 2017

Ciblon di Taman Laut Bunaken

Woooww.. Ternyata sudah lama juga sejak terakhir post di blog. Sebenernya dari tahun kemarin sudah mau komitmen untuk rutin post sesuatu di sini. Tapi apa daya kadang mood untuk nulis kadang datang bagai hembusan angin. Sebenernya untuk nulis itu mudah sih, kamu nggak perlu pergi ke suatu tempat untuk bisa bercerita. Karena cerita itu sudah ada sikitarmu, tinggal tergantung seberapa kamu bisa menyerap cerita tersebut dan menuangkannya ditulisan. 

Well, untuk mengawali komitmen untuk menulis, aku mau cerita tentang liburan aku dan keluarga di pulau seberang, Pulau Sulawesi. Ini bukan pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Di tahun 2015, aku selama 2 bulan tinggal di Makassar. Alasannya, karena mau merasakan kultur budaya sulawesi dan nikmatin semua kulinernya,

Dikunjungan kami yang ini, kami bukan mau nostalgia ke Makassar. Tapi agak lebih jauh lagi ke arah utara, kota Manado. Kami berangkat dari bandara Soekarno-Hatta Jakarta jam 9 pagi dan mendarat di bandara Sam Ratulangi Manado jam 1 siang. Penerbangan langsung dari Jakarta ke Manado menempuh waktu selama 3 jam. Namun karena perbedaan zona waktu WIB dan WITA, jadilah kami harus merubah jarum jam tangan kami 1 jam lebih cepat dari Jakarta.

Setelah mendarat kami langsung pergi makan siang di salah satu restoran seafood. Hal yang wajib dicoba kalau liburan ke daerah pantai adalah nyobain seafoodnya. Karena pasti beda banget rasanya dan cara penyajiannya seperti di Jakarta coret (Bekasi), pastinya lebih enak dan lebih seger. Nah kalau di Manado ini penyajian ikan bakarnya cukup unik karena sambelnya langsung dituang di atasnya. Bagi penggemar pedes sih ini enak pake banget. Sepertinya, bagi masyarakat Manado, sambel ini udah kayak nasi, sampe kalau makan pisang oreng itu juga dicocol sambel.

Selain kulinernya, Manado ini juga terkenal sama wisatanya. Nah, yang the most visited adalah Taman Laut Bunaken. Untuk mencapai ke lokasi cukup mudah dan nggak makan waktu yg lama ternyata. Perjalanan dari kota Manado ke Pulau Bunaken adalah selama 45 menit menggunakan perahu motor. Di Pulaunya ini kita bisa meminjam peralatan diving dan snorkeling. Kondisi terumbu karang di sektar manado ini masih lumayan bagus menurutku di bandng di Belitung dan masih cukup banyak varietas ikannya juga. Nah bisa bayangin dong terumbu karang yang di lokasi diving sebagus apa. Kalau untuk snorkeling tidak memakan waktu terlalu lama sih, cukup setengah hari aja di Pulau Bunaken. Tapi kalau mau diving, berdasarkan cerita guide bisa memakan waktu sampe sore karena perlu ada latihannya terlebih dahulu.

Bukan cuma wisata lautnya yang bisa kita kunjungi di Manado. Kita bisa juga mengunjungi kota di sekitarnya, yaitu kota Tomohon. Di sini cuacanya lebih dingin dibanding Manado, karena dikelilingi oleh pegunungan. Di tomohon kita bisa mengunjungi banyak tempat wisata, seperti Bukit Kasih, Danau Linow, Pagoda Ekayana, Air Terjun Kali dan wisata gunung. Di Danau Linow kita bisa menikmati pemandangan danau dan hamparan dataran tinggi yang masih ada belerangnya. Tenang bau belerang di sini nggk terlalu kecium kok. Jadi kita bisa sambil menikmati saraba hangat di pinggir danau.

Dapet kesempatan untuk bisa berkunjung ke manado ini memang sempet terpikirkan waktu tahun 2015 dan baru terealisasikan tahun 2017 ini. Such a beautiful memory to have a great time here and inhale the air there.

Manado's birdview

Welcome to Manado

Bunaken beach

Have a photo with Bunaken tagging

Boats on the beach and clear sky

Snorkeling

Swimming with the fish


This is how the fish presented

Linow Lake

The restoran near Linow Lake

Looking the Lake

Enjoy the view and dring hot Saraba

Rumah bongkar-pasang adat Manado




Senin, 25 Juli 2016

Jalan - Jalan di Belitong

Belitung adalah salah satu pulau dari kepulauan Bangka-Belitung. Nama Belitung mulai merdu didengar ketika diputarnya film Laskar Pelangi, film yang diangkat berdasarkan novel yang ditulis oleh Andrea Hirata. Karena penassaran dengan keindahan pantai yang digambarkan di film Laskar Pelangi. Jadilah, saya berencana untuk menyambangi pulau Belitong itu saat weekend. Mengambil flight jam 06.20 hari sabtu dan pulang jam 16.20 hari minggunya dengan pesawat Sriwijaya Air, liburan di Belitung mungkin bisa dibilang sangat efisien.

 First stop point is Tanjung Kelayang beach. Dari pantai ini kita bisa meminjam perahu untuk mengelilingi pulau-pulau kecil disekitar Belitung.
Sebenarnya sudah kehabisan kapal untuk dipinjam. Luckily, our guide is well-known person in Belitong.

 Dari Pantai Tanjung Kelayang, langsung keliatan batu besar yang disebut Batu Burung Garuda.

 Pantai yang cuma ada dari pagi sampai jam 1 siang, Pulau Pasir. 
Pulau kecil yang instagramable banget, dengan pasir putih, ombak dan langit yang dihiasi awan kapas, juga banyak bintang laut di sekitar bibir pulau ini. Tapi di sini nggak ada sponge bob ya, mungkin lagi lembur buat Karbby Paty :D

Pulau lengkuas, pulau yang menjadi icon dari island hopping di Belitung. Dengan mercusuar putih yang menjulag tinggi ini, pulau ini memiliki magnet tersendiri.

Kapal-kapal yang menepi di Pulau Lengkuas. Pemandangan ini bisa dilihat dari atas mercusuar. Untuk bisa menapai puncak mercusuar, kalian perlu menaklukkan 18 lantai.

Pantai yang ditampilkan dalam film Laskar Pelangi, Pantai Tanjung Tinggi, tidak jauh letaknya dari Pantai Tanjung Kelayang. Kurang lebih 20 menit bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi / sewa.

 Soto Belitung dan Mie Belitung Feat Tes Tarik

  Pemandangan sunset yang didapat dari swimming pool Hotel BW Suite. Kelaaass gais.

 Pagi-pagi hari minggu diawali ke Danau Kaolin. 
Danau yang airnya seperti kaca yang memantulkan langit. Infonya dari danau ini sunrisenya bagus.Mungkin bisa dicoba lain waktu untuk berburu sunrise di sini.

 Karena kata-kata lah yang menyampaikan keindahan. Museum Kata Andrea Hirata.
Agak pesimis bisa masuk ke museum ini, karena dapet info kalau museumnya lagi renovasi. Tapi ternyata dibuka juga. Dengan membayar tiket masuk 50 ribu rupiah, sudah mendapatkan buku atau CD. Oya, di museum ini kita juga bisa mengirimkan kartu pos dan dittempelkan 
prangko limited editon Museum Kata
Endlich Sonne auf der Haut