Jumat, 29 Desember 2017

Mengunjungi Rusa di Ciwidey

Di hari jum'at yang barokah, saya mencoba melihat kembali foto - foto perjalanan lama, salah satunya adalah wisata di Oktober 2016. Memang sangat asyik untuk bernostalgia melalui foto. Dan nostalgia itu sampailah pada folder Bandung - Ciwidey. Pada perjalanan ini terdapat banyak cerita yang ingin saya ingat lagi selagi menuliskan di post kali ini.

Perjalanan ke Ciwidey dari Kota Bandung, kami tempuh dalam waktu 1,5 jam menggunakan salah satu motor kesayangannya Mas Ridwan. Ridding ke-2 setelah perjalanan ke Bukit Kemuning di Karangayar, Solo. Wisata yang mejadi tujuan kami adalah Kawah Putih dan Ranca Upas.

Untuk masuk ke wisata Kawah Putih, kita bisa langsung parkir di dekat wisatanya atau di area parkir bawah dan melanjutkan perjalnan ke lokasi wisata menggunakan mobil angkot terbuka. Melihat dari biaya parkir di atas, kami memilih pilihan untuk memarkirkan motor di bawah dan menggunakan angkutan yang disediakan untuk naik. Perjalanan ke lokasi wisata dari parkir bawah menmakan waktu setengah jam. Di lokasi kawah putih ini, kita dianjurkan untuk menggunakan masker mulut dikarenakan bau belerang yang sangat menyengat di kawah tersebut. Sebaiknya juga menggunakan jaket yang lumayan tebal, karena cuaca yang dingin dan berangin. Lalu, jangan ketinggalan alat dokumentasi, karena di Kawah Putih terdapat beberapa lokasi yang memiliki pemandangan bagus, seperti hutan mati, gardu pandang kawah dan disekitar kawahnya.

Selain Kawah Putih, kami juga mengunjungi Kampung Cai Ranca Upas. Tempat ini merupakan lokasi perkemahan dan outbound, namun ada spot photo yang menjadi hits setelah Raisa mengupload fotonya bersama rusa-rusa. Ya, itu yang menjadi magnet untuk wisatawan mengunjungi lokasi Ranca Upas ini. Di sini banyak dijadikan spot yang bagus untuk foto - foto preweding atau kegiatan lain.

It's a must to take a photo with the tagline place

Hati - hati neng jalannya, liat bawah terus 

Nice photo like in another world 

Kawah yang menjadi danau

Misty fog in Kawah Putih


Breath deeply

Let's go find something to remember

Gerbang Ranca Upas

Meet the Deers

And take a photo with them

Jangan pelit ngasih makan binatang ya. Kalau nggak bakal kena karma gini 




Rabu, 20 Desember 2017

Ciblon di Taman Laut Bunaken

Woooww.. Ternyata sudah lama juga sejak terakhir post di blog. Sebenernya dari tahun kemarin sudah mau komitmen untuk rutin post sesuatu di sini. Tapi apa daya kadang mood untuk nulis kadang datang bagai hembusan angin. Sebenernya untuk nulis itu mudah sih, kamu nggak perlu pergi ke suatu tempat untuk bisa bercerita. Karena cerita itu sudah ada sikitarmu, tinggal tergantung seberapa kamu bisa menyerap cerita tersebut dan menuangkannya ditulisan. 

Well, untuk mengawali komitmen untuk menulis, aku mau cerita tentang liburan aku dan keluarga di pulau seberang, Pulau Sulawesi. Ini bukan pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Di tahun 2015, aku selama 2 bulan tinggal di Makassar. Alasannya, karena mau merasakan kultur budaya sulawesi dan nikmatin semua kulinernya,

Dikunjungan kami yang ini, kami bukan mau nostalgia ke Makassar. Tapi agak lebih jauh lagi ke arah utara, kota Manado. Kami berangkat dari bandara Soekarno-Hatta Jakarta jam 9 pagi dan mendarat di bandara Sam Ratulangi Manado jam 1 siang. Penerbangan langsung dari Jakarta ke Manado menempuh waktu selama 3 jam. Namun karena perbedaan zona waktu WIB dan WITA, jadilah kami harus merubah jarum jam tangan kami 1 jam lebih cepat dari Jakarta.

Setelah mendarat kami langsung pergi makan siang di salah satu restoran seafood. Hal yang wajib dicoba kalau liburan ke daerah pantai adalah nyobain seafoodnya. Karena pasti beda banget rasanya dan cara penyajiannya seperti di Jakarta coret (Bekasi), pastinya lebih enak dan lebih seger. Nah kalau di Manado ini penyajian ikan bakarnya cukup unik karena sambelnya langsung dituang di atasnya. Bagi penggemar pedes sih ini enak pake banget. Sepertinya, bagi masyarakat Manado, sambel ini udah kayak nasi, sampe kalau makan pisang oreng itu juga dicocol sambel.

Selain kulinernya, Manado ini juga terkenal sama wisatanya. Nah, yang the most visited adalah Taman Laut Bunaken. Untuk mencapai ke lokasi cukup mudah dan nggak makan waktu yg lama ternyata. Perjalanan dari kota Manado ke Pulau Bunaken adalah selama 45 menit menggunakan perahu motor. Di Pulaunya ini kita bisa meminjam peralatan diving dan snorkeling. Kondisi terumbu karang di sektar manado ini masih lumayan bagus menurutku di bandng di Belitung dan masih cukup banyak varietas ikannya juga. Nah bisa bayangin dong terumbu karang yang di lokasi diving sebagus apa. Kalau untuk snorkeling tidak memakan waktu terlalu lama sih, cukup setengah hari aja di Pulau Bunaken. Tapi kalau mau diving, berdasarkan cerita guide bisa memakan waktu sampe sore karena perlu ada latihannya terlebih dahulu.

Bukan cuma wisata lautnya yang bisa kita kunjungi di Manado. Kita bisa juga mengunjungi kota di sekitarnya, yaitu kota Tomohon. Di sini cuacanya lebih dingin dibanding Manado, karena dikelilingi oleh pegunungan. Di tomohon kita bisa mengunjungi banyak tempat wisata, seperti Bukit Kasih, Danau Linow, Pagoda Ekayana, Air Terjun Kali dan wisata gunung. Di Danau Linow kita bisa menikmati pemandangan danau dan hamparan dataran tinggi yang masih ada belerangnya. Tenang bau belerang di sini nggk terlalu kecium kok. Jadi kita bisa sambil menikmati saraba hangat di pinggir danau.

Dapet kesempatan untuk bisa berkunjung ke manado ini memang sempet terpikirkan waktu tahun 2015 dan baru terealisasikan tahun 2017 ini. Such a beautiful memory to have a great time here and inhale the air there.

Manado's birdview

Welcome to Manado

Bunaken beach

Have a photo with Bunaken tagging

Boats on the beach and clear sky

Snorkeling

Swimming with the fish


This is how the fish presented

Linow Lake

The restoran near Linow Lake

Looking the Lake

Enjoy the view and dring hot Saraba

Rumah bongkar-pasang adat Manado