Senin, 25 Juli 2016

Jalan - Jalan di Belitong

Belitung adalah salah satu pulau dari kepulauan Bangka-Belitung. Nama Belitung mulai merdu didengar ketika diputarnya film Laskar Pelangi, film yang diangkat berdasarkan novel yang ditulis oleh Andrea Hirata. Karena penassaran dengan keindahan pantai yang digambarkan di film Laskar Pelangi. Jadilah, saya berencana untuk menyambangi pulau Belitong itu saat weekend. Mengambil flight jam 06.20 hari sabtu dan pulang jam 16.20 hari minggunya dengan pesawat Sriwijaya Air, liburan di Belitung mungkin bisa dibilang sangat efisien.

 First stop point is Tanjung Kelayang beach. Dari pantai ini kita bisa meminjam perahu untuk mengelilingi pulau-pulau kecil disekitar Belitung.
Sebenarnya sudah kehabisan kapal untuk dipinjam. Luckily, our guide is well-known person in Belitong.

 Dari Pantai Tanjung Kelayang, langsung keliatan batu besar yang disebut Batu Burung Garuda.

 Pantai yang cuma ada dari pagi sampai jam 1 siang, Pulau Pasir. 
Pulau kecil yang instagramable banget, dengan pasir putih, ombak dan langit yang dihiasi awan kapas, juga banyak bintang laut di sekitar bibir pulau ini. Tapi di sini nggak ada sponge bob ya, mungkin lagi lembur buat Karbby Paty :D

Pulau lengkuas, pulau yang menjadi icon dari island hopping di Belitung. Dengan mercusuar putih yang menjulag tinggi ini, pulau ini memiliki magnet tersendiri.

Kapal-kapal yang menepi di Pulau Lengkuas. Pemandangan ini bisa dilihat dari atas mercusuar. Untuk bisa menapai puncak mercusuar, kalian perlu menaklukkan 18 lantai.

Pantai yang ditampilkan dalam film Laskar Pelangi, Pantai Tanjung Tinggi, tidak jauh letaknya dari Pantai Tanjung Kelayang. Kurang lebih 20 menit bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi / sewa.

 Soto Belitung dan Mie Belitung Feat Tes Tarik

  Pemandangan sunset yang didapat dari swimming pool Hotel BW Suite. Kelaaass gais.

 Pagi-pagi hari minggu diawali ke Danau Kaolin. 
Danau yang airnya seperti kaca yang memantulkan langit. Infonya dari danau ini sunrisenya bagus.Mungkin bisa dicoba lain waktu untuk berburu sunrise di sini.

 Karena kata-kata lah yang menyampaikan keindahan. Museum Kata Andrea Hirata.
Agak pesimis bisa masuk ke museum ini, karena dapet info kalau museumnya lagi renovasi. Tapi ternyata dibuka juga. Dengan membayar tiket masuk 50 ribu rupiah, sudah mendapatkan buku atau CD. Oya, di museum ini kita juga bisa mengirimkan kartu pos dan dittempelkan 
prangko limited editon Museum Kata
Endlich Sonne auf der Haut







Kamis, 10 Maret 2016

Outdoor Shoping in Bandung

Weekend kali ini digunakan untuk mempersiapkan bukan cuma mental tapi peraatan juga, untuk pendakian selanjutnya. Pendakian selanjutnya masih mengambil temoat di sekitar kota Garut. Pada pendakian ini, there are new member, CUT, ARIEF and FILBERT. Karena kekurangan perlengkapan untuk pendakian, kami  memutuskan untuk ke Bandung. Kenapa Bandung? Karena pada tanggal 2 - Maret 2016 kemarin ada acara ROAD TO OUTDOOR FEST di TSM Bandung. When you hear "Fest", it means that there would be a lot of discounts. We love discount! Hahaha

Jam 05.33, kami bertemu di meeting point biasa. Perjalanan memaan waktu seperti biasa lah ya, 2 jam. Sampai di Bandung masih kepagian dan TSM juga belum buka. So, kita nyari sarapan dulu setelah beli oleh-oleh di Prima Rasa. Kami menyimbangi kuliner bubur di Bandung, Bubur Ayam Mang Oyo, yang terkenal kalau buburnya nggak tumpah kalau piringnya dibalik. But, kita nggak sempat membuktikan kabar burung itu, karena perut sudah meminta asupan. Hehehe.. Oya selain bubur ayam, disini juga banyak makanan yang lain. And there's my favorite, Wedang Kembang Tahu. Oh Mein Got! Finally, i found my gem here.

Setelah sarapan, kami langsung menuju TKP. Sebelum mauk ke arena Festival, kami harus membayar Rp 10.000 dulu untuk tiket. There are a lot of outdoor brands here, Columbia, Rei, Eiger, Avantech, etc. Selain diskon-diskon dari brand tersebut, di acara ini juga ada acra Talkshownya juga. Salah satu yang saya ikuti adalah Talkshow dari komunitas ular. Nah disitu saya baru tahu bahwa sebenarnya garam itu nggk berpengaruh ke ular. Jadi kalau kalian nemu ular, jangan diganggu karena ular itu tipe binatang yang negikuti gerakan lawannya. Jadi gitu deh.

Dari TSM, kami nggak langsung balik ke Jakarta. Soalnya pak bose (aka: Arip) belum dapet sepesrpun perlengkapan outdoornya dia. Jadilah kita nemenin dia keliling Bandung shoping alat outdoor. Toko yang kami kunjungi adalah Toko Kawani dan Rei yang di dekat kampus UNPAD. Disinilah ujian kesabaran berlangsung, karena kami harus menemani sesosok yang sangat labil dalam belanja. Yaudah lah ya nggak usah dibahas bagian ini. Sebenarnya sih nggk masalah kalau punya banyak pertimbangan dalam membeli barang, tapi kita juga harus peka sama orang lain (read: penjaga tokonya). * OK Note it.

Alhamdulillah, kami bisa dapet beberapa barang outdoor dari perjalanan ke Bandung ini. Barang sisanya tinggal cari di Jakarta. Bismillah. :D

Wedang Kembang Tahu :D


Ularnya melet-melet. Ngerii tapi seneng juga
 

Minggu, 28 Februari 2016

Akhirnya Muncak (Gn. Cikuray, Garut)

Setelah cukup lama vakum dari hobby masa kuliah, 30 Januari akhirnya bisa mendaki salah satu gunung di Jawa Barat. Dengan persiapan yang cukup mepet, karena saya baru konfirmasi join seminggu sebelum berangkat, saya bergabung dengan tim Patrapala untuk mengikuti trip Gunung Cikuray. Gunung Cikuray adalah salah satu gunung di jawa barat yang tidak aktif dengan ketinggian 2821 mdpl.

Kami berangkat hari jumat malam. Hal yang membuat saya galau untuk join trip ini lebih awal adalah adanya tes les bahasa jerman pada hari jumat. Tapi jadwal tes saya ajukan jamnya. Hohoho... Dengan sponsor Nasi Ayam Gepuk Hayam Wuruk dari Pak Anis(read: Ketua Patrapala), kami mengawali perjalanan. Perjalanan ditempuh selama 6 jam dari Kantor Pusat Pertamina ke Terminal Guntur. Dari sekitar Terminal Guntur, kami menggunakan truk untuk mencapai Pos Pemancar. Sekitar jam 4 subuh kami sampai di pos awal pendakian. Setelah beradaptasi dengan udara dingin dan menunaikan sholat subuh serta sedikit sarapan, kami memulai pendakian sekitar jam 6.

Welcome :)

 Trek pendakian dari pos pemancar ke pos 2 adalah lahan perkebunan warga dan hutan yang mendaki sedikit. Trek pendakian yang lumayan menguras tenaga adalah dari pos 2 ke pos 4, karena treknya continually up and roots every where, so it's very slippery. Sedangkan dari pos 4 ke pos 6, treknya lumayan buat pendinginan, walaupun masih terus mendaki. Tim mendirikan tenda di pos 6, karena berbagai pertimbangan, salah satunya ramenya pendaki yang mendaki pada hari itu. Nge camp di pos 6 memiliki beberapa keuntungan juga, selain bisa menepis hawa dingin karena dikelilingi sama pohon, yaitu lebih dekat ke lokasi buang hajatnya. Hahaha
FYI kalau mau mendaki gunung lebih baik mengambil waktu pagi - siang hari, karena jika sore hari keungkinan hujan lebih besar. It happen to us. Fortunately i have already in the tend when the rain drop. Dan jika mau mendapatkan beautiful sunrise di Cikuray lebih baik memulai pendakian sekitar jam 4, karena waktu yang ditempuh dari pos 6 ke Puncak sekitar 1 jam an. 
Every trip is picturesque. In this trip i have many new friends and memories.

 Not a beautiful one, but i feel grateful to see the view
 With the Team and Kang Ade as the Porter
 With my Cikuray partner. She is an internship like me. I think i will miss her Padang dialect.
 Here we are on top of Cikuray Mountain :D
 The Patrapala Family
Turun gunung. Watch out! The ground is very mudy
 Naik odong-odong. Mbak mika pusing ya?

 

Selasa, 05 Januari 2016

KRL 05.25

KRL (Commuter Line) is the most favorite public transport in Jabodetabek area, including Bekasi City. People who work in Jakarta usually have their house in the suburbs, such as Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi. Usually, at busy hour, 07.00 a.m and 04.00 p.m, a lot of workers gather in station, especially in Bekasi station.

Nowadays, I always take KRL at 5.25 from Bekasi Station to Gondangdia Station. It is my favorite, because there is a breakfast seller. She bring many kind of home made food, such as soya milk, lontong, panada, pisang goreng, and other Indonesian's best-loved snack. Mainly, I buy "makanan sehat". It contains meat, mashed potato, carrot, bean and sauce.

In this train, I always take a special spot, the spot is near the second door in the first car. Because, i can get a seat regularly, when the train pass from Manggarai Station. However, I sit for a short time, since Gondangdia Station is only 2 more stations from Manggarai. 

At last, I enjoy my morning time, even though i must struggle, stand for an hour, i let it flow happily.